You are here
Home > DATA PUBLIKASI > MASTERPLAN DAERAH RESAPAN AIR KOTA BANJARBARU

MASTERPLAN DAERAH RESAPAN AIR KOTA BANJARBARU

Perkembangan dan pertumbuhan kota merupakan suatu hal yang tak dapat dihindari. Hal ini terjadi untuk menjawab kebutuhan manusia akan ruang aktivitas yang beragam. Makin bervariasi kegiatan manusia, maka semakin bervariasi pula pemanfaatan lahan dan ruang. Perkembangan dan pertumbuhan kota dapat dipastikan mengintervensi lingkungan. Salah satu faktor lingkungan yang sering bersinggungan dengan pemanfaatan ruang dan lahan adalah persoalan tentang air permukaan.

Seringkali kota-kota di Indonesia tumbuh dan berkembang tanpa perencanaan yang matang sehingga bentukan dari kota-kota di Indonesia berbentuk urban sprawl.Keabstainan perencanaan ini tidak hanya dalam perencanaan secara fisik namun juga perencanaan kebijakan termasuk kebijkana tentang lingkungan.

Dalam Peraturan Pemerintah nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air pasl 49 dan pasal 50 di sebutkan bahwa Konservasi sumber daya air ditujukan untuk menjaga kelangssungan daya dukung, daya tamping
dan fungsi sumber daya air yang berbentuk kegiatan perlindungan dan
pelestarian sumber air yang diterjemahkan menjadi :
1. Pemeliharaan kelangsungan fungsi resapan air dan daerah tangkapan air.
2. Pengendalian pemanfaatan sumber air.
3. Pengisian air pada sumber air.
4. Pengaturan prasarana dan sarana sanitasi.
5. Perlindungan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan pembangunan dan pemanfaatan pada sumber air.

Sesuai peraturan tersebut dapat dilihat bahwa ada kewajiban akan konservasi sumberdaya air salah satunya adalah dengan pemeliharaan fungsi resapan air dan tangkapan air.

Dengan melihat peraturan tersebut dan melihat realita pembangunan Kota Banjarbaru yang semakin pesat dengan ditandai dengan maraknya pembangunan kawasan perumahan maupun kepentingan lain seperti perkantoran, pertokoan dan perluasan bandara telah menyebabkan berkurangnya daerah tangkapan dan resapan air. Selain itu perubahan penggunahan lahan yang menghasilkan permukaan lahan yang kedap air juga menyebabkan air hujan yang jatuh tidak dapat meresap ke dalam tanah. Hujan akan langsung menjadi aliran permukaan (run off), menurunkan tingkat infiltrasi dan meningkatkan poetnsi bajir dan genangan di kawasan tersebut. Yang dapat dibuktikan dengan sering terjadinya genangan dan banjir saat musim hujan.

Untuk melestarikan simpanan air tanah, maka tingkat infiltrasi air hujan ke dalam tanah merupakan faktor yang sangat penting. Tingkat peresapan atau infiltrasi tergantung pada: curah hujan, persentase run off, tipe tanah, kemiringan lereng, tipe vegetasi, dan penggunaan lahan. Aspek-aspek tersebut terlebih dahulu disajikandalam bentuk peta-peta, kemudian diklasifikasikan sesuai dengan kategori yang ada, yaitu: peta penyebaran hujan, peta jenis tanah, peta kemiringan lereng, dan peta penggunaan lahan.

Melalui kegiatan penyusunan master plan daerah resapan air Kota Banjarbaru diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan daerah-daerah yang potensial bagi resapan air di kota Banjarbaru.

Unduh MASTERPLAN DAERAH RESAPAN AIR KOTA BANJARBARU

Leave a Reply

Top